Tirta Kencana, 17 Agustus 2026 — Ada cerita berbeda dari peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini bagi keluarga besar MTs DDI Tirta Kencana. Setelah belasan tahun tidak mengikuti kegiatan karnaval, madrasah ini memberanikan diri kembali tampil di tengah masyarakat.
Tidak sekadar berpartisipasi, kontingen MTs DDI Tirta Kencana yang beranggotakan 27 siswa berhasil menorehkan prestasi membanggakan dengan meraih Juara I kategori Pelajar/Sekolah dan membawa pulang piala bergilir.
Prestasi tersebut terasa semakin istimewa karena sejak awal, target utama MTs DDI bukanlah menjadi juara.
Berawal dari Keinginan Membangun Kepercayaan Masyarakat
Keputusan untuk kembali mengikuti karnaval dilatarbelakangi oleh keinginan keluarga besar madrasah untuk memperkenalkan kembali MTs DDI Tirta Kencana kepada masyarakat.
Selama ini, MTs DDI masih menghadapi tantangan dalam membangun kepercayaan masyarakat. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan Rahmat Mubarok, S.Pd.I., yang baru bergabung di MTs DDI Tirta Kencana, mendorong siswa untuk berani tampil dan menunjukkan bahwa madrasah juga mampu berkarya.
Namun sejak awal, para siswa tidak dibebani target untuk menjadi juara.
“Tunjukkanlah yang terbaik. Jangan berharap menang. Yang penting berikan kesan terbaik kepada masyarakat. Kita sudah berani tampil pun, Alhamdulillah.”
Pesan sederhana itulah yang ditanamkan kepada para siswa. Karnaval dipandang bukan semata-mata sebagai perlombaan, melainkan kesempatan untuk melatih keberanian, kedisiplinan, kekompakan, kreativitas, sekaligus memperkenalkan MTs DDI Tirta Kencana kepada masyarakat.
Satu Bulan Berlatih Setiap Hari
Keputusan untuk kembali tampil setelah belasan tahun absen tidak dilakukan tanpa persiapan.
Selama kurang lebih satu bulan, para siswa menjalani latihan setiap hari di bawah bimbingan Rahmat Mubarok, S.Pd.I. Latihan difokuskan pada kekompakan, baris-berbaris, gerakan variasi, yel-yel, serta penampilan musik sederhana.
Keterbatasan peralatan tidak menghentikan kreativitas mereka. Para siswa justru membuat konsep musik menyerupai drum band dengan memanfaatkan berbagai barang sederhana dan bahan bekas, seperti kaleng, botol, dan benda-benda lain yang dapat menghasilkan bunyi.
Dari alat-alat sederhana itulah irama dibangun. Gerakan demi gerakan dilatih berulang kali agar seluruh peserta dapat tampil kompak.
Salah satu variasi yang dipersiapkan adalah gerakan barisan “Seribu Komando”, yang kemudian menjadi salah satu bagian penampilan yang berhasil menarik perhatian masyarakat.
Kelapa Diangkat Menjadi Identitas Penampilan
Hal lain yang membuat penampilan MTs DDI Tirta Kencana berbeda adalah tema yang dibawakan.
Melalui kesepakatan dewan guru, dipilihlah kelapa sebagai konsep utama karnaval. Tema tersebut bukan dipilih tanpa alasan. Kelapa sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Desa Tirta Kencana, tempat perkebunan kelapa menjadi salah satu sumber penghasilan utama masyarakat.
Tema tersebut kemudian diwujudkan dalam berbagai unsur penampilan. Para siswa mengenakan kostum yang memanfaatkan daun kelapa, membawa alat peraga bernuansa kelapa, hingga membawakan yel-yel dengan tema yang sama.
Untuk bagian kostum, persiapan dikoordinasikan oleh Riyanti, S.Pd., dengan dukungan dewan guru lainnya.
Persiapan karnaval sendiri menjadi kerja bersama. Selain Rahmat Mubarok, S.Pd.I. dan Riyanti, S.Pd., kegiatan ini turut melibatkan Ambarwati, S.Pd. serta seluruh dewan guru MTs DDI Tirta Kencana.
Kreativitas yang ditampilkan sekaligus membawa pesan bahwa sesuatu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari dan bahkan bahan-bahan sederhana dapat diolah menjadi sebuah penampilan yang menarik ketika dikerjakan dengan kreativitas dan kekompakan.
Tepuk Tangan Masyarakat Mengiringi Penampilan
Pada 17 Agustus 2026, tibalah saatnya 27 siswa tersebut menunjukkan hasil latihan mereka.
Karnaval yang diselenggarakan oleh Pemerintah Desa Tirta Kencana mengambil rute di wilayah Kampung II dan Kampung III Desa Tirta Kencana.
Ketika kontingen MTs DDI Tirta Kencana mulai menunjukkan kreativitas, kekompakan barisan, permainan musik dari alat sederhana, serta berbagai gerakan variasi yang telah dipersiapkan, masyarakat memberikan respons yang antusias.
Warga terlihat menyaksikan penampilan para siswa, sebagian mengabadikannya menggunakan telepon genggam, sementara sebagian lainnya memberikan tepuk tangan.
Bagi keluarga besar MTs DDI, respons tersebut sebenarnya sudah menjadi sebuah pencapaian. Sebab, sesuai pesan sejak awal, tujuan mereka adalah berani kembali tampil dan memberikan kesan yang baik kepada masyarakat.
Namun hasil yang diperoleh ternyata melampaui harapan.
Bukan Hanya Tampil, MTs DDI Pulang Sebagai Juara I
Setelah seluruh rangkaian penilaian dilakukan, MTs DDI Tirta Kencana akhirnya diumumkan sebagai Juara I kategori Pelajar/Sekolah.
Madrasah yang sebelumnya telah belasan tahun tidak mengikuti karnaval itu akhirnya tidak hanya berhasil kembali tampil, tetapi juga membawa pulang piala bergilir.
Piala tersebut diterima oleh Iis Sarimanah, S.Ag., salah seorang guru yang tetap mendampingi para siswa hingga rangkaian pengumuman pemenang selesai.
Ada cerita tersendiri di balik momen bahagia tersebut.
Rahmat Mubarok, S.Pd.I., yang selama kurang lebih satu bulan mendampingi latihan siswa setiap hari, justru tidak dapat berada bersama anak-anak saat hasil perlombaan diumumkan. Pada hari tersebut, ia harus menjalani perawatan di rumah sakit.
Kabar bahwa anak-anak yang dilatihnya berhasil menjadi Juara I justru diterimanya melalui video call.
Dari rumah sakit, melalui layar telepon, ia menyaksikan para guru dan siswa memperlihatkan kebahagiaan mereka setelah menerima piala bergilir.
Sebuah akhir yang bahkan tidak menjadi target ketika latihan pertama kali dimulai.
Mereka berangkat dengan keinginan sederhana: berani tampil dan memberikan kesan terbaik. Mereka pulang membawa Juara I.
Bukan Akhir, tetapi Awal untuk MTs DDI Tirta Kencana
Kepala MTs DDI Tirta Kencana, M. Rois, S.Pd., turut menyambut gembira pencapaian tersebut. Keberhasilan ini menjadi kebahagiaan bagi siswa, guru, dan keluarga besar madrasah.
Dampaknya terhadap pandangan masyarakat luas tentu tidak dapat diukur hanya dari satu kegiatan. Namun setidaknya, setelah keberhasilan tersebut mulai terlihat peningkatan antusiasme dan kepercayaan dari kalangan orang tua/wali murid MTs DDI Tirta Kencana.
Bagi madrasah, hal tersebut merupakan awal yang baik.
Juara I bukanlah alasan untuk merasa telah selesai. Sebaliknya, pencapaian ini menjadi pengingat bahwa MTs DDI Tirta Kencana harus terus bergerak, memperbaiki diri, memberikan pendidikan terbaik, membuka ruang kreativitas bagi siswa, dan perlahan membangun kepercayaan masyarakat melalui bukti nyata.
Karnaval 17 Agustus 2026 akhirnya meninggalkan cerita yang lebih besar daripada sekadar sebuah piala.
Dari daun kelapa, alat musik dari kaleng dan botol bekas, latihan setiap hari selama kurang lebih satu bulan, hingga 27 siswa yang berani tampil di hadapan masyarakat, lahirlah sebuah pelajaran bahwa keterbatasan tidak selalu menjadi penghalang untuk menghasilkan sesuatu yang membanggakan.
Setelah belasan tahun tidak mengikuti karnaval, MTs DDI Tirta Kencana akhirnya kembali.
Dan pada kembalinya itu, mereka membawa pulang Juara I.
Semoga pencapaian ini menjadi langkah awal untuk menunjukkan bahwa MTs DDI Tirta Kencana terus hidup, terus bergerak, terus berbenah, dan siap membangun kepercayaan masyarakat Desa Tirta Kencana melalui karya dan prestasi.